Kamis, 25 Desember 2014

10 Tahun Tsunami

Jhon Carry Menlu AS, menyampaikan ucapan duka atas terjadinya peristiwa yang sangat dahsyat " Big Giant Wave" Tsunami, dan terjadi pada tgl 26 Desermber 2004 yang lalu. Tepatnya kejadian yang memilikan tersebut telah berlalu 10 tahun yang silam.


Jhon Kerry menyampaikan ucapan duka | image:kabar24
Jhon Kerry | image: kabar24

Berikut petikan Jhon Karry di kutip dari Kabar24.com

Saya tidak akan pernah lupa ketika saya mendengar berita tentang tsunami yang melanda Samudra Hindia 10 tahun yang lalu. Foto dan rekaman video yang saya lihat sangat memilukan: seluruh isi kota, mulai dari kota-kota di Indonesia hingga Somalia, luluh lantak; ombak deras menyapu bersih rumah penduduk; ratusan ribu nyawa hilang dan ada lebih banyak lagi yang terpisah dari keluarga mereka.

Hari ini, kita mengheningkan cipta untuk mengenang mereka yang telah pergi selamanya – mulai dari petani dan nelayan, hingga wisatawan dari kampung halaman kita. Saya paham bahwa tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kehilangan yang sangat menyakitkan tersebut. Tidak ada cara untuk menghapus rasa pilu orangtua yang kehilangan anaknya, atau anak yang kehilangan orangtua mereka sehingga mereka harus mengemban tanggung jawab orang dewasa pada usia belia.

Kita menghargai jutaan orang yang telah memberikan kontribusi terhadap upaya pemulihan. Kita juga menghormati mereka yang masih terus bekerja untuk membantu para korban bangkit kembali dan membangun kembali komunitas mereka. Tsunami Samudra Hindia 2004 adalah salah satu tsunami terganas yang pernah kita saksikan, tapi tsunami itu justru mendorong kita untuk menunjukkan sisi terbaik kita.

Tsunami itu juga merupakan peringatan bagi kita. Seperti yang kita ketahui, ada banyak wilayah yang memang selalu dilanda banjir dan mengalami kenaikan permukaan laut. Selama beberapa tahun belakangan ini, para ilmuwan selalu mengingatkan bahwa perubahan iklim dapat mengakibatkan badai yang lebih sering dan lebih merusak, kecuali bila kita mencegahnya dan mengubah kebijakan kita. Tahun lalu saya berkunjung ke Filipina dan menyaksikan kerusakan yang diakibatkan Topan Haiyan/Yolanda. Tidak masuk akal apabila topan semacam itu – atau bahkan lebih buruk – akan terjadi dan terjadi lagi. Waktu untuk bertindak terhadap perubahan iklim adalah sekarang – sebelum terlambat untuk merespons peringatan.

Pada hari refleksi ini, kita berduka bersama sahabat-sahabat di Asia dan Afrika, yang terkena dampak bencana yang dahsyat ini. Kita berkomitmen untuk terus bekerja membantu kawasan membangun komunitas yang lebih aman dan tangguh. Kita juga berjanji untuk berupaya sebaik mungkin untuk mewariskan planet yang lebih aman dan berkelanjutan kepada anak dan cuci kita. Generasi-generasi di masa depan mengandalkan kita.

Reuni Yang Mengharukan

Seorang wartawan BBC bernama Andrew Harding talah datang kembali untuk melihat Aceh setelah 10 tahun tragedi tsunami, kali ini ia datang untuk berjumpa dengan seorang remaja putri Aceh Mawardah Priyanka, korban tsunami Aceh. Kedua orang tua Priyanka telah tiada akibat dari gelombang dahsyat tersebut.

Priyanka mengungkapkan
"Tidak ada yang peduli terhadap saya - tidak ada yang mencintai saya seperti orangtua saya,"

wartawan BBC Andrew Harding Dan Mawardah Priyanka
Andrew Harding-Mawardah Priyanka | image:bbc.co.uk

Sebagaimana yang diserukan oleh Ustad Samsurijal Sys di Masjid Baiturrahman bahwa kita tidak harus selalu bersedih karena bencana, mengevaluaisi diri dan memperbaiki kehidupan yang lebig baik adalah yang yang terpenting untuk dilakukan. Semoga kita mendapatkan iktibar dari semua kejadian yang menimpa kita.